Influence ID – Influencer Performance Platform Pertama di Indonesia
Punya followers banyak emang bisa jadi nilai plus buat seorang influencer, tapi sebenearnya cara brand memilih influencer bukan hanya dari satu aspek saja.
Banyak creator yang merasa, “Kok gue belum dipilih brand ya, padahal followers gue lumayan banyak?” Karena dari luar, kelihatannya brand pasti mencari influencer dengan angka followers besar. Padahal proses brand memilih influencer jauh lebih kompleks dari itu.
Saat ini brand jadi selektif karena objective campaign makin beragam. Ada campaign yang fokus sama awareness, conversion, bahkan sales.
Karena itulah brand tidak hanya melihat jumlah followers, tapi juga audience relevance, engagement quality, content authenticity, conversion potential, dan historical performance.
Brand mencari influencer yang bukan cuma bisa menjangkau banyak orang, tapi juga bisa menyampaikan pesan secara natural dan bisa dipercaya audiens.
Umumnya brand punya standar tertentu sebelum memilih influencer. Berikut beberapa red flag yang bisa bikin brand ragu untuk bekerja sama:
Brand nggak hanya melihat jumlah engagement, tapi juga kualitasnya.
Engagement yang terlihat nggak natural, seperti komentar terlalu general, likes yang gak seimbang, atau interaksi yang nggak relevan, bisa menurunkan kepercayaan brand terhadap performa influencer.
Followers banyak belum tentu cocok buat semua campaign. Brand tetap melihat apakah demografi, minat, dan behaviour audiens kamu sesuai dengan target market yang ingin mereka tuju. Kalau nggak relevan, peluang untuk dipilih bisa lebih kecil.
Kalau konten nggak sesuai brief, main message-nya terlewat, atau upload nggak sesuai timeline, campaign bisa kurang maksimal dan brand dapat menilai proses kerja sama kurang profesional.
Selain kualitas konten, brand juga menilai bagaimana proses kerja sama berjalan. Komunikasi yang lambat, sulit dihubungi, atau kurang responsif bisa membuat campaign jadi nggak efisien dan menurunkan kepercayaan brand.
Setelah tahu beberapa alasan kenapa brand bisa ragu, berikut ini hal yang bisa kamu lakukan biar dilirik brand:
Brand biasanya lebih gampang tertarik kalau mereka tahu siapa audiens kamu. Makanya, penting buat punya niche yang konsisten, seperti beauty, lifestyle, parenting, fashion, kuliner, atau tech.
Kalau audiens dan niche-mu jelas, brand juga lebih mudah melihat apakah kamu cocok untuk campaign mereka.
Followers banyak akan lebih bernilai kalau didukung engagement yang natural. Jadi jangan lupa bangun interaksi lewat konten yang relate dan balas DM atau komentar dari followers.
Konten campaign nggak harus terasa kaku. Selama tetap sesuai brief, kamu bisa buat konten sesuai dengan karakter & gaya mu supaya lebih relate buat audiens.
Selain hasil konten, brand juga menilai cara kerja kamu. Kalau kamu mudah dihubungi, tepat waktu, dan terbuka dengan feedback, brand akan lebih nyaman untuk bekerja sama lagi.
Pada akhirnya, brand mencari influencer yang relevan, dipercaya, dan punya audiens yang aktif. Inilah yang membuat nano influencer, micro influencer, dan niche creator makin punya tempat di influencer marketing.
Gabung jadi Influencer di Influence ID Marketplace aja!
Sebagai nano atau micro influencer, kamu bisa lebih mudah ditemukan oleh berbagai brand yang lagi cari creator untuk campaign mereka.
Aplikasinya aman digunakan & fee kolaborasi kamu akan dikirim dalam kurun waktu 5 hari setelah campaign selesai sesuai ketentuan.
Yuk download aplikasinya di sini!